Ini bukan pertama kalinya aku mengunjungi tempat wisata ini, Keraton Yogyakarta. Dalam perjalanan kali ini yang kukunjungi adalah bagian Utara keraton. Perjalanan ini kulakukan dua tahun lalu. Untuk mengunjungi keraton bagian Selatan , kulakukan itu sekitar delapan tahun lalu, ketika Study Tour SMP.
Saat
memasuki kawasan alun-alun utara, yang saat itu penuh banyak orang, ntah kenapa
untuk sesaat bagiku tempat itu begitu hening dan sepi. Aku tak tahu apa itu dan
saat itu aku juga tak terlalu peduli. Hal seperti ini tak asing bagiku. Seperti
umumnya, aku dan seorang temanku membeli tiket masuk lantas mulai berjalan
mengamati keunikan arsitektur bangunan di dalam area itu.
Siang itu,
sekitar pukul 13.48, lokasi ini tak terlalu ramai. Sedikit mendung juga. Kami
berdua memasuki area pagelaran. Sekali lagi, untuk sesaat aku tertegun dalam
kebisuan. Déjà vu, Déjà visit, atau
sebutan lainnya, apa pun itu, bagaimana caranya aku tak tahu, tapi aku pernah
ke tempat ini dalam mimpiku. Seandainya karena pernah melihatnya dalam foto,
aku sendiri bahkan hampir tak pernah peduli dengan tempat ini dulu. Jadi aku
tak pernah mencari dan melihat foto apa pun tentang tempat ini. Tapi mimpiku
saat SMA itu memperlihatkan detail-detail tempat ini.
Ntah karena
aku pecinta dongeng atau hal semacamnya, tapi aku masih tahu kapan saatnya
mendongeng dan kapan saatnya mengatakan kebenaran. Meski aku sendiri merasa
kebenaran itu sangatlah tak masuk akal. Di dalam mimmpiku aku tengah menuruni
sebuah kerata tua, kereta dengan tenaga kuda. Tak terlalu melihat jelas kereta
itu, aku hanya mengingat ornament lampunya, ada sesuatu yang menyerupai lilitan.
Aku turuni kereta itu dan diikuti turunnya seorang wanita sepuh yang kemudian
berjalan di depanku. Beberapa orang jalan beriringan bersama kami. Di depan
sana alat musik tradisional telah dimainkan. Kami berjalan mendekat ke “pendopo
besar” itu.
Aku sangat
menyukai pakaianku dalam mimpi itu. Rok batik coklat kemerahan, kebaya warna
krem dan sepatu beludru biru (yang sempat kupikir terlihat aneh) tampak cantik
juga. Hingga tak lama kemudian di tengah acara dengan berbagai pertunjukan
music dan tarian aku pun harus pergi bersama seseorang, laki-laki yang samar
wajahnya, dan hanya selalu terlihat punggungnya.
Cerita
mimpi itu berakhir. Saatnya kembali ke cerita perjalanan. Dari pagelaran
berlanjut ke pacikeran, yaitu tempat abdi dalem berjaga. Kami berdua berjalan
tanpa pemandu, jadi aku tak tahu dimana kami kecuali di tempat itu ada namanya,
atau kami mengira-ngira melalu peta dalam buku pemandu yang kubeli.
Perjalanan
ini seperti saat aku berjalan dengan pria dalam mimpiku. dimana kemudian
memasuki tempat yang terlihat seperti sebuah rumah. Ada saat lain dalam mimpiku
yang lain, aku tengah menanti ibuku di teras sebuah rumah. Dengan melihat dan
berdiri di tempat ini, rasanya seperti mengulang kembali mimpiku. dengan sudut
pandang ini.
Aku tak
tahu apa sebenarnya tempat ini dulu. Tapi disini aku melihat lagi punggung itu.
Pria samar itu. yang kemudian akhirnya terpikir olehku dan kembali terbawa
mimpi.
Beralih ke
tempat lain. Seperti labirin. Perbatasan daerah Lor dan Kidul. Jika ingin
melihat isi di balik gerbang itu, maka harus masuk lewat gerbang selatan. Lalu
kami pun hanya melihat-lihat koleksi foto
yang dipamerkan di salah satu bangunan yang ada. Foto-foto lukisan
kereta kerajaan dan raja-raja terdahulu.
No comments:
Post a Comment