Showing posts with label Cermin. Show all posts
Showing posts with label Cermin. Show all posts

2015-08-08

UFO


“Apakah itu Blue Star?”

“Bukan, itu UFO.”

“Itu bukan UFO. Tak mungkin ada UFO datang kesini. Mm..apa itu pesawat?”

“Kubilang itu UFO.”

“Ah, bukan! Itu Blue Star.. Oh, bukan, bukan! Itu Planet Biru! Ia tak berkedip seperti bintang. Sinarnya sangat terang. Ya, itu pasti Planet Biru.”

“Kalau aku bilang UFO berarti itu UFO.”

“Tapi aku ingin menyebutnya Blue Star atau Planet Biru!”

“Tetap saja aku ingin menyebutnya UFO. Dia bergerak, kan? Jika ia tak bergerak maka kau bisa memanggilnya Blue Star atau Planet Biru.”

“Well, kalau begitu aku hanya akan memanggilnya lighted kite.”

“Oh My! Kalau akhirnya hanya menyebutnya begitu kenapa kau meributkan blue star atau ufo atau planet biru itu!?”

“Kau juga, kenapa meladeniku?”

“Aish, terserah kau sajalah.”

“Lagipula apa pentingnya sebuah nama, jika ia tetap terlihat indah dengan sebutan apa pun. Sekali pun kau menyebutnya kecoa pun ia tetap terlihat cantik. Bukankah dengan nama apa pun kau tetap menyukainya jika kau memang telah menyukainya? Ia takkan berubah dari penting menjadi tak berarti hanya karena nama. Sama seperti saat kau mencari sesuatu, yang kau inginkan adalah UFO yang ada di benakmu, tapi orang lain menunjukkan sesuatu bernama UFO dalam rupa yang berbeda, kau tak puas, kan. Seperti di awal, kita tak tahu apa dia sebenarnya, ia tak bernama, namun ia tetap berhasil menarik perhatian kita..”

“Hm..ya kau benar..tapi tetap saja.. Hai UFO!! Aku lebih suka memanggilnya UFO.”

“Terserahlah!”

“Aku akan terus memanggilnya UFO, barangkali saja UFO itu bisa mendengar sehingga ia tertarik padaku juga dan kemudian mengingatku kalau aku memanggilnya UFO hihi..^-^”
“Sesukamu sajalah!”

2015-08-03

Si Ulat Pemimpi


“Awas ada ulat!”seru seorang anak laki-laki memberitahu adik perempuannya. “Jangan mendekat!”tuturnya lagi menjauhkan adiknya yang berusia empat tahun itu dari seekor ulat yang melata di batang pohon kersen.

Ulat itu pun kemudian berhenti saat seekor burung merpati mendekat.

“Kau tak mencoba kabur lagi dariku?”sapa burung merpati bertanya saat si ulat yang tak berbalik seperti biasanya. Ulat pun hendak mengatakan sesuatu akan tetapi urung saat tiba-tiba gadis kecil yang tadi tiba-tiba berlari mendekati burung merpati.

2015-05-25

Sebuah Dermaga..

 Pada suatu hari Laut bertanya pada Dermaga..”Apa kau baik-baik saja?”
“Ya, tentu saja, kenapa kau bertanya begitu?”
“Apakah kau bahagia menjadi dirimu?”tanya Laut sembari menikmati kudapan malamnya, sebuah bulatan jingga  yang dilahapnya secara perlahan.
“Tentu saja, kenapa harus tidak?”sahut dermaga seraya tetap sibuk dengan beberapa orang-orang dan barang-barang yang berlalu lalang.
“Mungkin saja kau lelah, untuk menjalani semua seperti ini.. Kau begitu sibuk namun kau hampir tak pernah menjadi bagian dari memori mereka..”
“Apakah itu penting? Aku tak peduli jika mereka hanya melintasiku tanpa melihatku dengan seksama selayaknya mereka menyaksikan tempat wisata yang indah.”sahut Dermaga
“Lalu apa kau baik-baik saja menjadi tempat para kapal membuang limbahnya? Menjadi penyedia air minum bagi mereka yang kehausan tapi setelah itu mereka hanya melupakanmu?”
“Setidaknya mereka ingat aku saat mereka membutuhkanku..”jawab Dermaga lagi menangkis jalan pikiran Laut. “Meski aku tak pernah menjadi tujuan utama, meski mereka datang hanya setelah mereka merasa lelah dan menjadikanku sebagai tempat pengisi daya, namun aku bahagia, selama aku bisa membuat semuanya kembali tegar. Setidaknya aku masih berguna di dunia ini.. Mungkin aku tak seindah tempat wisata tujuan orang-orang, mungkin aku tak lebih penting dari apa yang dengan berat mereka tinggalkan, meski untuk kesekian kalinya aku hanya menjadi sebuah dermaga, untuk menjadi bagian terkecil dalam memori mereka, aku tetap bangga atas diriku.. Bagaimana pun aku tak dibangun secara sembarangan.. Setidaknya keberadaanku di dunia ini tidaklah sia-sia..”

2014-12-09

KEDUDUKAN TERTINGGI



Pagi itu taman begitu riuh. Angin yang berhembus cepat itu tampak sangat sibuk, berusaha menyamarkan suara pertikaian antara bunga-bunga itu. Mereka tengah mempeributkan siapa di antara mereka yang paling pantas tinggal di kedudukan tertinggi, menyandang sebutan terindah dan paling mengesankan.
Kana                  : Tentu saja aku, warna merah dan kuning yang begitu terang dapat menarik perhatian semua orang dengan mudah.
Sedap malam :  Apa-apaan? Sudah jelas aku, aku selalu tampil harum, semua orang terkesan padaku.
Pacar air           :  Kalian ini bicara apa, akulah yang paling pantas, buktinya banyak orang memilihku untuk menghiasi rumah mereka, aku sangat berguna untuk kesehatan, tak sekedar warna kuning atau merah, aku memiliki banyak variasi warna.
Teratai              : Kalian berisik sekali, apa kalian tak sadar, jika hanya aku yang paling agung dari semuanya? Aku selalu dijadikan simbol di banyak kerajaan di dunia.
Sedap malam : Bagaimana pun akulah ratu bunga, mereka menyebutku demikian.. Tak hanya dirimu   saja, teratai, aku pun tak jarang menjadi simbol kesucian. Selain itu..
Perdebatan terputus oleh semprotan air dari Naera yang mendadak muncul dengan selang panjangnya.
Naera                :  Di malam hari ribut, udah pagi juga tetep ribut aja!
Pacar air           : Tak bisakah kau sedikit lebih halus memandikan kami?? Kasar sekali tiba-tiba main semprot!
Teratai              :  Ya, benar sekali, kurasa kau pun tak usah menyiramku, Nae, aku masih punya banyak air!
Naera                : Salah kalian sendiri, sangat berisik! Lihatlah mawar, seruni,  dan jasmin, semua orang banyak yang suka pada mereka, tapi mereka tenang-tenang saja!
Kana                  : Ah, mungkin mereka sadar mereka gampang rontok karena mahkota mereka teralu kecil..

2014-10-30

Namanya ''Mesin Mbak Saras''



Sore itu aku baru saja tiba di rumah. Perasaan lega kini aku telah bersembunyi dari terik surya pukul 3. Begitu aku datang kakak perempuanku langsung memelototi kardus besar di tanganku. Bola matanya megikuti segala perpindahan kardus itu. Sampai kemudian isi kardus itu keluar,  kakakku yang autis itu pun akhirnya menyaksikan isinya yang bukan merupakan barang istimewa. Hanya sesuatu yang berwarna putih dengan empat botol warna di sisi kirinya. Peliharaan baruku. Teman baruku.
Kuletakkan peliharaan baruku itu di atas meja. Ia duduk di samping monitor PC tua milikku. Kakakku berjalan mendekat ke kamar dan berdiri di samping meja komputer saat aku sedang sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk peliharaan baruku. Masih menatap sesuatu yang asing baginya. Tak lama kemudian kuberi benda itu makanan berupa kertas berukuran A4. Temanku yang sangat putih  itu pun memuntahkan lagi makanannya dengan darah berwarna-warni melumuri permukaan kertas yang kuberikan.
Aku menyodorkan kertas yang sudah bergambar itu ke kakakku. Gadis berusia 27 tahun itu meraihnya lalu mengamati apa yang terbentuk di sana. Lantas ia pun tersenyum.
              "Mbak Saras.."ujarnya senang
             "Iya, itu fotonya mbak Saras." Kataku. Kakakku berbalik berjalan dengan kaki X nya dengan semangat menghampiri ibuku yang sedang menjahit di dekat jendela.
            "Ibu..ibu..!"serunya lembut memanggil ibuku sembari mengayun-ayunkan foto di tangannya. "Mbak Saras..!"serunya lagi memamerkan fotonya ke ibuku.
              "Lho iya, ini fotonya mbak Saras!"respon ibuku penuh antusias membuat kakakku terkekeh.
Jarum panjang jam dinding telah berputar 360 derajat sebanyak 4 kali. Saat makan malam kulihat kakakku pergi meninggalkan kami lebih dulu. Ia berjalan memasuki kamarku seperti biasa. Untuk melanjutkan film K-drama yang sedang ditontonnya pikirku. Tak lama kemudian aku menyusul. Aku pun melihat bagaimana laptop yang memutar drama itu kini tengah menonton kakakku yang tengah mengintip mulut teman baruku itu. Ia mengelus kepala teman baruku itu sambil tersenyum senang.
"Mbak Saras?"ujarnya dengan nada bertanya.
"Kenapa mbak?" kataku balik bertanya.
"Mbak Saras.."serunya sambil menyodorkan kertas kosong padaku.
"Buat apa?"
"Mbak Saras.."katanya lagi sambil menunjukkan fotonya.
"Oh, mau ngeprint fotonya mbak Saras lagi?"sahutku mulai paham. Ia tersenyum lebar dan mengangguk kegirangan. Mau tak mau aku jadi tertawa.  Lantas kucetak kembali beberapa foto untuknya.
"Oh, mbak Saras.."serunya sambil melambaikan tangan kanannya dengan semangat ke arahku sambil kemudian berlanjut menyanyikan lagu Pok Ame-Ame. Ia menyanyi dengan matanya tampak fokus ke mulut printer menyaksikan kertas yang keluar secara perlahan.
"Nih, Mbak!"seruku seraya menyerahkan empat buah foto yang baru selesai kucetak. Ia pun tersenyum senang.
Matahari yang sempat tertidur kini telah bangun. Aku pun menyapa peliharaan baruku untuk makan. Beberapa lembar laporan skripsi hendak kucetak saat itu. Tepat di tengah-tengah aku mengeprint laporan, kakakku datang, sambil mendendangkan lagu Pok Ame-Ame kegemarannya. Tiba-tiba saja lagunya terhenti dan kini ia bengong menyaksikan laporan-laporan skripsiku yang keluar di muntahkan peliharaanku itu.
"Oh, mbak saras..?"ujarnya dengan nada khasnya, nada tanya dengan sedikit dilagukan.
"Bukan, ini skripsinya adek, Mbak. Bukan foto."
"Oh, mbak saras.. oh mbak saras.."dendangnya lalu berjalan keluar.
Setiap kali aku bermain dengan peliharaan baruku itu ia akan menyebut kata "Mbak Saras''. Atau bahkan ketika aku tak memakainya pun ia akan membelai lembut atau menepuk-nepuk pelan kepala peliharaanku tersebut dengan menyebut namanya sendiri. Kini pun tiap kali ia temukan kertas kosong, ia pun akan menyodorkannya padaku sambil berkata ''Mbak Saras''. Well, rupanya ia menamai teman baruku tersebut dengan nama 'Mbak Saras' sebab di awal ia mengenal, yang tercetak disana adalah fotonya. Jadi kami pun memberi nama peliharaan baruku itu dengan nama "Mesin Mbak Saras".

2014-10-13

Sebuah Percakapan Pengantar Tidur


Seperti tiap kali senja,  Naera akan keluar menyapa taman bunganya yang ada di halaman belakang rumah. Memandikan flora-flora yang sudah dianggapnya sebagai sahabat setia yang sangat dicintainya. Meski taman itu tak terlalu luas, berkisar 75 m2, namun aneka warna bunga selalu menghiasi hari-harinya dengan lengkap, baik mawar, seruni, tapak dara, pacar air, lily merah jambu, kana kuning dan merah, serta sedap malam .
Di sana terdapat serambi kecil simetris dengan pintu rumah yang tepat di tengahnya. Di situlah Naera akan beristirahat  menikmati tarian indah sahabat-sahabatnya bersama angin, diiringi dengan dengan klenengan bambu yang tergantung di depan pintu. Tepat di kanan kiri teras belakang itu melambailah sedap malam dengan warna khasnya yang putih. Bunga itu sengaja ditanamnya disana, dengan begitu semerbak harumnya lebih terasa membelainya tiap kali ia memerlukan penyegaran di sana.
Setelah merampungkan beberapa kesibukan, tepat pada pukul 8.15 Naera kembali ke tempat favoritnya. Di antara sahabatnya. Malam ini ia sendirian di rumah. Ayah ibunya sedang pergi kerumah saudaranya di luar kota. Ia pun memutuskan untuk membagi beberapa topik pembicaraan dengan penghuni tamannya. Melewati sebuah percakapan pengantar tidur.
“Naera, kamu besok ulang tahun, kan?”sapa Ratkirani si Sedap malam.
“Kamu tahu dari mana?”
“Yang pasti ada narasumber.. Hm..kalau begitu kudoakan semoga kamu tambah baik lagi dalam mengekspresikan diri dan perasaan.... biar bisa menghasilkan karya-karya yang lebih menakjubkan, bebas tapi tetep indah sebagai seorang pelukis..”
“Ya, benar! Semoga di usia yang semakin berkurang semakin banyak keberkahan untukmu dan selalu dalam lindungan Tuhan!” seru Kana
“Amiiin!!”seru bunga-bunga lainnya dan tentu saja Naera.
“Wah, terimakasih teman-teman.. ! Hm.. Tapi aku tak paham denganmu Ratkirani, apakah selama ini aku berwajah datar? Kurang ekspresi?”
“Hm..menurutku begitu, kamu harus keluarkan semua imajinasimu, dan tunjukan perasaanmu, lalu buatlah sebuah lukisan yang tak pernah dilihat oleh orang lain sebelumnya.. yang bisa menyentuh perasaan penikmatnya, ya seperti selayaknya kau merawat kami.”
“Hm.. begitu maksudmu?” sahut Naera seraya menoleh ke belakang, ke arah dalam ruangan di belakangnya, sebuah foyer kecil dengan beberapa lukisan karyanya. “Kau benar juga, mereka terlalu realis naturalis.. Ah, tapi kan karena aku bukanlah pelukis, hanya tukang gambar, ini pun hanya pekerjaan sambilanku untuk membuat lukisan potret sesuai orderan..hitung-hitung menambah uang saku kuliahku..”

2014-10-06

Ketika Rumput Tetangga Tampak Lebih Hijau..



Pintu keluar telah menelan bu Rina yang barusaja mengakhiri pelajaran fisika bangunan. Para mahasiswa pun turut berhambur menuju keluar kelas. Hanya beberapa yang masih tersisa tak beranjak dari tempat duduknya.
“Ah, menyedihkan  sekali hidupku minggu ini..”keluh Ayu pada Zie teman sebangkunya seraya memutar bangku menghadap Vira dan Alris yang ada di belakangnya. Wajahnya sangat kusut.
“Kenapa memangnya?”sahut Vira seraya membereskan barang-barangnya ke dalam tas.
“Sebentar lagi Idul Adha, libur, aku bisa pulkam, tapi ayah ibuku masih pergi haji. Kayaknya nggak enak sholat id sendirian.”
“Ah, iya, bener juga, kayak tahun kemarin waktu aku nggak bisa pulkam, sholat disini rasanya kayak orang asing..”komentar Zie.
“Iya, nggak enak, pasti kangen ibu, orang biasanya selalu di samping ibu tiap kali sholat id.”kata Ayu lagi.
“Yang enak tu si Alris, rumahnya disini, keluarganya juga disini, jadi tiap tahun bisa sholat bareng ortu..”sahut Vira menyinggung nama Alris yang dari tadi tak berkomentar apa pun.
“Iya, nih, Alris enak, bapak ibunya nyanding..”dukung Ayu. Alris hanya menjawabnya dengan senyum. Ia tak bisa mengungkapkan apa yang dipikirkannya.
“Ketika kalian berkata kangen, rindu, untuk sebuah ketidakbersamaan, lalu apa yang harus kuungkapkan? Sangat rindu? Sepertinya kata ‘sangat’ itu pun tak bisa mewakili perasaan ini.. aku bahkan sudah tak ingat lagi kapan terakhir kali aku sholat di samping ibuku.. sepertinya aku terlalu kecil untuk bisa mengingat waktu terakhir itu..”
Oh ya, bagaimana kabar ayahmu? Kapan pulang dari Jepang?”tanya Zie pada Vira.
“Minggu depan katanya.. nggak enak banget nggak ada papa dirumah..  padahal baru seminggu nggak bareng.”
“Ya, seenggaknya, kan ntar pulang.. sabar aja..”sahut Alris.
“Iya, sih, ini juga nyabar-nyabarin nunggu.. biasanya ada yang nganter ngampus, ngajak makan bareng, ngapa-ngapain bareng, beberapa hari nggak ada aneh banget rasanya.”
“Ya, iyalah mesti..”kata Ayu “Bapak dan ibu itu segalanya deh.. tanpa mereka, sendirian itu nggak enak banget..”
“Kalau ngrasa sendirian, minta temenin Tuhan aja..”goda Alris.
“Aish, mentang-mentang ortu lengkap dirumah, ngomongnya gitu..”sahut  Ayu dan Zie.
“Nggak gitu juga ya..”
“Ah, kalau gitu harusnya kita pinjam ortunya Alris aja selama disini ya,,”
“Iya, bener juga, harusnya gitu..”
Lagi-lagi Alris hanya menjawab secara diplomatis.
“Seandainya orangtuaku bisa dipinjam,  ayahku bisa dipinjam, bisakah aku meminjamnya untuk sehari? Cukup sehari saja, itu lebih dari cukup.. Kalian sangat pantas, untuk merindukan seseorang yang sedang berada di tempat yang jauh, tapi apakah pantas untukku merindukan seseorang yang ada di sekitarku tiap hari? Ketika aku memiliki seorang ayah, tapi tak bisa merasa memiliiki..” kata Alris lagi  dalam hati sembari mengingat buruknya kondisi broken home yang dimilikinya. Ntah ibunya yang selalu marah-marah,  ayahnya yang workaholic ternyata punya kekasih baru sampai tak peduli pada anak istrinya bahkan ketika keluarganya sakit sekali pun, atau kakak perempuannya yang kerjanya hanya berfoya-foya. Semua membuatnya merasa jenuh dan perlahan terasing.

Di dunia ini kehidupan sangat beragam. Namun tak lebih dari cerita di atas. Hanya sebuah masalah sederhana, akan tetapi pada intinya manusia tak ada hentinya membandingkan apa yang dimilikinya dengan apa yang dimiliki orang lain. Rumput tetangga selalu tampak lebih hijau. Selalu demikian. Memandang orang lain lebih beruntung. Hampir selalu mereka lupa bersyukur atas apa yang dimiliki. Selalu saja merasa dirinya yang paling malang, paling menyedihkan. Padahal tiap insan pasti memiliki permasalahan masing-masing. Mempunyai sisi positif dan negatif tersendiri.
Oleh sebab itu, bagi siapa pun yang sedang bersedih, sebaiknya segera akhiri kesedihan itu. Apa yang kita alami adalah sebuah jalan terbaik dari Tuhan yang harusnya kita syukuri. Tak hanya memandang keburukan pada diri dan menginginkan keberuntungan orang lain hingga ‘gila’. Namun berusaha ikhlas melihat semua berkah yang telah Tuhan berikan, lantas berusaha lebih untuk mencapai cita-cita di masa depan. Berusaha keras dan berdoa untuk selalu mendapat petunjuk dan kebarokahan dari Tuhan takkan pernah jadi sia-sia, sebab Tuhan sama sekali tak pernah meninggalkan kita.
Apabila saat ini kita merasa sulit, di saat orang lain berbahagia, itu bukan berarti kita tak beruntung atau diciptakan berbeda oleh Tuhan. Tuhan itu tak pilih kasih. Hanya saja kita masih belum mendapatkan giliran kita untuk mendapatkan kebahagiaan kita. PERLU ANTRI! Kalau kita antri dengan tertib pasti nanti dapat jatah juga.. 
Jika rumput tetangga tampak lebih hijau, ya berarti kita harus lebih rajin lagi nyiram rumput di rumah kita biar sama hijaunya, atau bahkan lebih hijau dan subur dari punya tetangga..
^-^  SO KEEP CHEERFUL!!!  ^-^


2014-09-22

PELANGI MALAM



“Bulan kala hujan!”bisiknya berseru dalam hati sambil menatap cakrawala basah dari balkon rumahnya.
“Kau sudah lihat, kan, sekarang? Bukankah pelangi malam itu sangatlah indah?” tanya Asha pada Alice yang memandang haru ke arah sang bulan.
“TIdak.”jawab gadis itu membuat Asha seakan tertimpa balok beton yang jatuh dari puncak tower crane.
“Tidak?”
“Bagiku, ini menyakitkan. Bulan itu seperti bola mata yang menangis. Aku tahu sebenarnya ia memakai pelangi hanya untuk menyembunyikan tangisannya! Dasar bulan bodoh! Kenapa ia  masih saja berpura-pura cantik saat ia sedih?”
Asha pun termenung mendengarnya. Namun sesaat kemudian pemuda itu kembali berkata, “Mungkin ia begitu karena ia berbeda dengan kita.. Kita hampir selalu mencari simpati orang lain saat sedih, seakan dunia hancur bersama kesedihan kita. Akan tetapi bulan tak demikian. Ia tak ingin melihat kita turut sedih karenanya. Mungkin dengan memakai pelangi malam yang indah itu ia bahkan bisa membuat semua orang bersedih menjadi terhibur, dan ia pun dapat  menyaksikan orang-orang tersenyum padanya. Senyuman yang bisa segera membuat kesedihannya terkikis hingga habis.”

2014-09-02

Tempayan Malu





Mendadak teringat pada sebuah cerita dalam rubric Lentera, Majalah Intisari. Lupa itu majalah edisi ke berapa, namun saat membacanya dulu cerita itu cukup mengesankan. Inti ceritanya seperti ini..
Berkisah tentang sebuah tempayan air dan penjual air. Setiap hari pria penjual air itu membaya dua buah tempayan air yang diikatkan pada ujung-ujung sebuah pikulan kayu, menyusuri perkampungan dari kaki gunung ke punggung bukit. Saat itu si tempayan air merasa sangat bersalah pada tuannya. Ia sedih dan malu pada dirinya sendiri. Ia tak bisa menjadi tempayan yang sempurna.ia memiliki cela, yakni menjadi sebuah tempayan yang bocor. Hingga suatu hari ia berkata pada tuannya,
“Tuan, maafkan saya. Saya sebenarnya malu, karena saya akhirnya Tuan harus bolak-balik ke sungai mengambil air. Padahal kalau saya tak bocor, tak akan ada air yang tercecer, sehingga Tuan tak perlu bekerja keras.”
“Kau tak perlu merasa bersalah seperti ini..”sahut penjual air, “..pikirkan saja tentang kegunaan dari kekuranganmu itu.”lanjut penjual air lalu menunjukkan bagaimana air yang mengucur dari lubang tempayan bocor itu ditambung oleh cekungan di batu. Dimana air itu pun menjadi air minum bagi burung-burung dan binatang lain yang singgah di tempat itu.
Lantas pria itu kembali berjalan. Air pun membasahi tanah sepanjang jalan yang ditumbuhi oleh bunga-bunga.
“Lihatlah, semua orang terkesan dengan indahnya bunga-bunga ini, semua ini karena dirimu. Kau menyiraminya setiap hari. Tanah sepanjang jalan menjadi subur, sehingga biji bunga yang kutanam bisa tumbuh dengan baik. Bahkan penduduk desa juga pun memberi saya upah untuk menanam bunga-bunga ini. Jadi janganlah pernah malu pada kekuranganmu.”tutur sang penjual air. “Segala sesuatu pasti memiliki nilai yang berguna bagi kehidupan.”pungkasnya.