Showing posts with label FIKSI. Show all posts
Showing posts with label FIKSI. Show all posts

2019-10-17

Dream



Lortfa dengan berat membuka matanya. samar-samar terlihat olehnya langit-langit kayu yang usang menyorotkan sinar dari celahnya.
"Kak, cepat bangun!" gugah dua orang anak kecil di sampingnya.
Gadis berkemeja putih dan rok biru itu masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi, namun ia hanya bisa menurut saat anak laki-laki dan perempuan itu menariknya.
"Lewat sini kak!"ajak mereka melewati pintu belakang lumbung padi tersebut. Hingga mendadak di kejauhan terdengar seruan, 
"Itu mereka!"

2017-12-05

Timeless Memories II: Night Lover

 Listen to my favorite song, Yiruma - Moonlight, and Laura Shigihara - Everything's Alright, then enjoy the night. You'll see there are so much love in the air. Play the song from Selena Gomez - Fly to Your Heart and let your heart fly to the sky. These moments are the prove of love existence. Some of them may be a bit bitter, but the fact, it's the one that make us stand still, alive and survive. Love is our home, just like the lyric of Hear'Say - The Way to Your Love.






See also Timeless Memories

2016-12-18

The World End

“Tunggu aku, okay?! Aku akan kembali. Aku pasti kembali. Hanya saja bersabarlah. Memang agak lama, tapi aku yakin kau akan kuat. I’ll always be yours.” kata Chander pada Terra.
“I hate you.” sahut Terra lirih, dan Chander tetap bergerak. Perlahan, pemuda itu pun terbang, menipis, dan menghilang ditelan gelapnya malam.
Terra tertunduk. Berjalan kembali, pulang. Kembali ke dalam kamar kecilnya yang penuh dengan seratus buah lonceng angin di langit-langitnya. Riuh menyambutnya. Nyanyian Moana di halaman yang biasanya membuatnya tenang kini nyaris tak tertangkap daun telinganya.
Gadis itu dengan lemah meraih secarik kertas coklat usang. Duduk di bangku kayu tuanya, mengambil sedikit tinta dengan penanya, dan menorehkannya. Entah berapa lama proses itu diambilnya. Entah berapa ratus, ribu, juta kali jarum jam tua berdetak. Bersautan dengan gemerincing lonceng, deburan angin, nyanyian pasir di teras rumah Moana.
“Dear Chander, 
Let me tell you something. The atmosphere here.
So dark in the deep heart. Tear, rain, torn the time.
As if it will never end. Cloudy earth at night.”

2016-08-14

Secret Garden


Ge. Gadis itu adalah penduduk sekitar kawah Bulan. Meski raganya menyimpan elemen Bumi, ia tak ditakdirkan mengenal manusia-manusia itu. Hingga suatu hari datanglah seseorang dalam sosok manusia.
"Aku datang dari Mars." Sahut pria itu terduduk lemah di ujung tebing yang dilewati Ge.
"Jadi kau bukan manusia?"Tanya gadis bertubuh kecil itu.
"Aku manusia yang tersesat ke tanah Mars. Aku adalah pengembara agar aku mampu hidup. Hanya saja, pesawatku patah. Hingga aku terdampar disini.”
“Hm..tapi kudengar manusia tak sanggup hidup di sini. Selain itu harusnya sulit untuk mereka menapakkan kaki kemari. Namun kenapa kau tampak begitu normal di sini?
“Bukannya aku normal bagimu, hanya saja manusia adalah makhluk paling sempurna di dunia ini, kan? Mungkin aku hanya cukup cakap untuk beradaptasi di Negeri Antariksa. Namun aku belum sepenuhnya mampu untuk menjadi normal menurut kamusmu. Jadi bisakah kau menolongku?"

2016-01-23

Mine

Under the moonlight, I was enchanted to meet you. I like the way you look at me. For me, today was a fairytale. Met a superman like you. I never expect, finally I love you, for real. And you’re the best thing that’s ever been mine
When you're gone, missing you was dark grey all alone, but loving you was red. And I felt I can’t stop loving you  even we’re far apart. The journey also felt hard. Every night I was waiting for you, even I know you wouldn’t come. I just wish you were here. Yet, it just felt as wildest dreams.. Aah.. Can't wait to see you again!
But that night was a surprise, when you told me “You’re not alone, you’ll be in my heart.” You also said, “Nothing’s gonna change my love for you.” I hope that was right and true. So I could keep the way to your love. If you’re with me then everything’s alright.
The best, that you’re coming home. Then we’re planning for the long live
And thanks for the gift you bring for me, to always keep this love in heart.

2016-01-03

Tanpa Judul, Tanpa Nama 5



“Apakah kau bodoh? Apa kau mengerti bagaimana berbahasa Indonesia? Bukankah aku sudah bilang kalau hari ini proyek kita jalan. Bagaimana bisa sampai detik ini kau belum jelaskan apa pun pada kontraktor?! Sampai ada kesalahan kerja seperti, apa saja yang kau lakukan, ha?” Teriak wanita berusia kepala empat itu memecah keheningan koridor hotel siang itu. Di sampingnya berdiri pria tua dan dua orang lagi yang lebih muda.
“Saya sudah jelaskan, Bu! Saat itu Pak Gustra pun berkata iya, mengerti. Lagi pula bukankah untuk hal itu di gambar sudah jelas.”terang Nana, yang termuda di antara semuanya.
“Tidak. Belum semua di jelaskan. Lagipula gambar yang saya terima baru sebagian.”bantah Pak Gustra membuat Nana tercengang.
“Kau bahkan belum kirim gambar?”

2015-12-06

Tanpa Judul, Tanpa Nama 4



Can’t you just stop?”
“Arsa, aku..” sahut Nana begitu lirih nyaris tertelan deru hujan.
“Can’t you just look at me?” potong Arsa. Seorang pemuda tampan dan jenius yang harusnya mampu mengalihkan dunia Nana dari lingkaran Moringa. “Apa kau tak melihat bagaimana dia mengacuhkanmu?”
“Ia mengacuhkanku karena ia tak tahu jika itu aku.” bantah Nana.
“TIdak. Aku tahu, jika kau tahu bahwa ia tahu..”balas Arsa. “Kau dengan begitu percaya diri datang kemari karena kau yakin, bahwa kau mengirim pesan yang pasti akan membuatnya berpikir tentangmu.”
“Tidak. Buktinya ia tak datang. Aku yakin karena ia tak menyadari makna pesanku.”sahut Nana lalu kembali berjalan pergi. “
“Nana!” seru Arsa mengejar lagi gadis itu. “Setidaknya ijinkan aku mengantarmu pulang.”lanjut pemuda itu dan Nana kembali berhenti.
“Apa menurutmu, ia sungguh tahu jika itu aku?”
“Aku tak tahu. Kau yang harusnya lebih tahu. Aku tak pernah tahu bagaimana kalian berkomunikasi selama ini.”
“Kuharap ia tak tahu..sebab jika ia tahu, ia pasti membenciku, aku sudah mengganggunya dengan catatan-catatan aneh itu.”
@@@

2015-11-18

Tanpa Judul, Tanpa Nama 3



                 “Kriiing!!”
Ailin terperanjat bangun dari tidurnya seakan baru terbebas dari kedalaman air laut.  Dimatikannya jam meja yang menunjuk pukul 6.30.
                “Tok..tok..tok..” Belum lepas benar, keterkejutannya kini bertambah. Seketika gadis itu kembali membeku. Sirkulasi udara tertahan, sedangkan darah bergerak cepat. Gadis itu seakan hendak meledak karena ketakutannya.
“Tok..tok..tok..”
                Ailin pun nekad bergerak cepat meraih pisau dan membuka pintu. Penuh siaga pisau di genggamannya siap menyerang.

2015-11-15

Tanpa Judul, Tanpa Nama 2



 “Kenapa kau ajak aku kesini?”tanya Nana sesaat setelah Moringa memarkir motornya di tepi jalan Pantai Sindu.
“Mm..hanya ingin jalan-jalan saja. Sudah lama kita tak kesini.”jawab Moringa santai. Keduanya pun berjalan ke arah Selatan melintasi beranda deretan kafe dan restoran yang penuh dengan berbagai bentuk lampion, lentera, lilin dan sebangsanya. Sampai akhirnya bermuara pada satu ujung yang tenang, beristirahat dalam naungan sebuah gazebo kayu.  “Ah, anginnya kencang sekali disini, apa kau tak dingin?”

2015-11-14

Tanpa Judul, Tanpa Nama


Kring..kriing..” Ailin memutar balik sepedanya kemudian menyelip para pejalan kaki di pesisir Sanur. Gadis berkaos merah itu pun menikung ke arah matahari di balik bale bengong yang tengah menyimpan seseorang. Diparkirlah sepedanya di samping sebuah sepeda kayuh yang ada. Lantas gadis itu pun berlari turut duduk di samping gadis berjaket hijau.
“Hei, aku mencarimu! Ternyata kau bengong di sini.”seru Ailin pada Nana teman kuliahnya yang sekarang juga sekantor dengannya.
“Ah, sory. Aku capek. Jadi terhenti di sini.” sahut Nana.

2015-11-08

Catatan



Kaira terdiam di samping kotak ajaibnya. Mematung di antara foto-foto yang berserakan bersama buku catatan hariannya. Namun bukan berarti pandangannya kosong sepenuhnya seperti boneka mati. Bola matanya lurus ke arah sebuah potret, keadaan ketika ia tertawa bersama di samping kawan-kawannya. Baik teman perempuan maupun laki-laki.
Masih ditatapnya foto pemuda berkemeja denim itu. Seribu pertanyaan muncul jika dihitung. Seakan ia tak pernah memiliki catatan apa pun bahkan ingatan apa pun tentang orang itu. Berhari-hari, berbulan-bulan malah, ia seperti orang amnesia. Tak menyadari jika sebagian peristiwa yang hilang dari catatannya itu disebabkan perbuatannya sendiri. Ia tak murni kehilangan bagian itu, tetapi kini ia ingat jika ia memang merobeknya dan melemparnya masuk keranjang sampah.

2015-11-06

Saksi


     Angka pada layar ponsel menunjukkan pukul dua dini hari, ketika udara terasa begitu pengap. Biasanya kipas angin itu bisa membuatnya menarik selimut tapi kini seperti tak berfungsi. Waktu telah berlalu dua jam sejak ia menulis kata goodnight pada pemegang hatinya melalui layanan pesan. Namun night itu ia jalani tanpa meninggalkan kesadaran detik-detik ke dini hari yang mendung.
     Gemuruh ringan membuatnya mematikan kipas angin. Memastikan kebenaran yang didengarnya. Ia keluar dari ruangannya, duduk di beranda yang menghadap taman, sebagai saksi turunnya hujan pertama bulan November.  Sesuatu yang dinantinya akhirnya datang jua. Meski hanya sesingkat satu putaran jarum detik jam dinding. Dikalahkan lolongan, gonggongan anjing yang terjaga di jalanan.
     Sekali lagi ia tatap ponsel, meraihnya sejenak, lantas kembali diletakkannya. Pasti ia telah pergi ke kota mimpi.  Hingga kesekian kali ia meraih ponsel membuka jendela percakapan. “Aku rin” Hanya sampai sana. Jarinya tersangkut backspace berkali-kali, selama setengah jam. Hingga memutuskan kembali masuk. Mencoba terlelap di sisi kekasihnya yang lain. Kekasih simpanannya, yang masih mengenakan dasi polkadotnya dalam tidurnya, yang ternyata kurang hebat menggambar tawa di wajahnya meski gadis itu sangat menyukainya.
     “I’m not really fine..” bisiknya pada si pemegang hati, dalam pikirnya. Sesuatu yang sulit dikatakan sungguhan. “Oh, No! I’m just too tired,  perhaps. Ini semua tak semudah menggambar.. tak sebagus bayangan anak SD”
     Gadis itu pun memeluk erat kekasih simpanannya yang tetap tenang terbaring di tempat tidurnya. Berharap menjadi setenang itu pula. Kekasih simpanan yang terlalu tenang dan suka terlelap, yang tak pernah terbangun, sejak awal. Yang tak pernah mengerti rasa sakit, sekali pun dipukul berkali-kali. Yang tak pernah berusaha membenarkan atau menyalahkan apa yang terjadi. Yang tak pernah mengerti apa pun, walaupun ia satu-satunya saksi yang melihat. Meskipun ia pendengar terakhir atas pesan terakhir.  Saksi terakhir sebelum gadis itu hilang..

2015-10-15

Warna

Apa warna favoritmu?
Merah.
Kenapa merah?
Aku merasa tampak semakin cantik dengan merah.
Lalu warna apa yang menurutmu pantas untukku?
Hm..bagiku kau..
Merah, saat pertama kali listrik menyengat dan jari kita sedikit bertemu, tapi itu sudah bertahun-tahun lalu.
Biru, detik-detik pergelangan tangan tergenggam, saat telapak kaki tak lupakan dingin bahari.
Hijau, ketika hangat bersemi, banyak bagian terbaikmu kusaksikan, tentang segala yg mendekatkan kita.
Hitam, setiap kuharus menatap punggungmu mengabur, malam panjang.
Kurasa kau bisa pilih sendiri, mana yang dapat membuatmu nyaman untuk kau sandang.
Bagaimana dengan jingga?
Jingga.. Memang ada yang membuatnya tampak bagus, karenanya kumulai tertarik melihatmu. Namun tentang jingga, ada hal yang membuatku sakit setelah kuingat caramu memandang warna jingga di masa lalu.
Begitukah? Lalu dengan ungu?
Orang bilang warna janda. Kau bukan janda,kan?
Hm..kalau kuning?
Mm..aku tak tahu akankah cocok atau tidak, tapi kuharap ia pancarkan kebahagiaan padamu.

2015-09-27

Aroma, Jejak Memori (end)


Waktu kesadaran Radya berhenti bersamaan dengan berakhirnya jam kerjanya di kantor. Gadis itu masih terdiam di perpustakaan bergaya rustic modern itu, di saat seharusnya ia bersiap pulang.
“Apa kau mau lembur hari ini?” Tegur Fong yang ada di seberang rak mengintip Radya lewat celah-celah buku. Radya menggeleng. “Lalu kenapa malah melamun? Ayo cepat, kita pulang!”ujar Fong lagi.
“Oke, aku akan menyusul. Kalian pulanglah dulu. Aku bereskan buku-buku ini dulu.”jawab
Radya kembali beralih waktu dan tempat secara maya. Perlahan rak putih di perpustakaan kantor itu berubah warna. Buku-buku tebal arsitektural berubah menjadi kumpulan majalah dan jurnal. Gadis itu berpindah dimensi. Kembali ke perpustakaan kampusnya di masa lalu.
“Hei! Sedang apa?”sapa seseorang mengagetkan Radya.
“Oh, kau, Ehan. Cari jurnal untuk referensi skripsi. Kau sendiri?”

2015-09-25

"We can go anywhere, as long as you're happy.."
"Wherever I go I'll be happy, as long as you're by my side.."

2015-09-24

Aroma, Jejak Memori (2)



“Ivan! Ita punya DVD Doraemon baru, lho! Ayo nonton bareng!” seru gadis kecil pada temannya di seberang rumahnya.
“Iya..tapi Ivan makan siang dulu, ya.” balas pemuda cilik itu dari balik pagar rumahnya.
“Iya!”
“Ntar kalau udah selesai makan, Ivan main ke tempat Ita.”
“Iya. Ita tunggu, ya!”
“Iya.”
Fong, Radya, Nita dan Yuyun yang tengah makan siang di warung sebelah rumah gadis itu pun tersenyum. Menyaksikan drama singkat itu. Mungkin masing-masing dari mereka sedang teringat akan kenangan masa kecil masing-masing.
“Hm..Doraemon, ya..”gumam Fong singkat lalu menyantap soto ayamnya.
“Eh, dari dulu sampai sekarang, aku suka sekali Doraemon, berharap alatnya ada sungguhan!”seru Yuyun bersemangat
“Iya.. pasti seru!”sahut Nita.
“Hm..kalau kalian punya Doraemon, alat apa yang paling kalian inginkan dari kantongnya? Jangan bilang pintunya!?”

2015-09-21

Aroma, Jejak Memori (1)

Klik mouse dan ketukan keyboard menderu di tengah keheningan ruang kerja Radya hari itu. Enam orang di ruang yang sama itu sibuk bergulat dengan garis-garis berwarna di atas latar hitam di monitornya. Aroma dupa sudah tersingkir saat menjelang siang. Kini angin yang tadinya bertiup dari sela-sela pohon kamboja dan kersen di halaman, terhalang masuk oleh kaca jendela yang kini menutup. Seperti biasa, saat matahari meninggi, sistem sirkulasi udara dalam ruang diganti. Seperti biasa pula, Radya tak pedulikan itu, toh bukan urusannya, menutup atau membuka jendela adalah pekerjaan para OB.

2015-09-05

INDIRECT LETTER (part5-end)


 “Apa maksudmu? Kenapa kau tanya begitu? Darimana kau tahu tentang hal itu?”tanya Kaira penuh emosi. Askari pun memalingkan wajahnya seakan baru tersadar ia telah melakukan sebuah kesalahan.  “Aska? Jawab aku?!”desak gadis itu kembali mendekat. “Siapa kau sebenarnya?!”
“Jika kau mengulang pertanyaanmu lagi, apakah kau mampu membuatku peduli? Kau telah berhasil! Bahkan jauh sebelum rasa penasaranmu itu muncul..”ucap Askari begitu lirih nyaris tak terdengar.

INDIRECT LETTER (part 4)


            “Hei! Apa kau tak mendengarku? Apa yang kau pikirkan?” tegur Askari seakan menghentikan deru hujan di sisi luar galeri itu.
“Ah, maaf.. Mm..tak ada.. hanya sedikit masa lalu.”sahut Kaira seraya menatap kerajinan perak di balik vitrin di hadapnya.
“Apa ada yang serius? Sampai alismu menyatu begitu. Sampai tak mendengarku bicara?”
“Antara ya.. dan tidak..”
“Tentang apa memangnya?”
“Tentangmu..”sahut Kaira singkat lalu beralih ke sisi lain ruang galeri seni tersebut.
“Aku?” Tanya Aska heran. Kaira pun berhenti di depan kerajinan kaca ukir berbentuk wayang.
“Sebenarnya.. hari itu membawa payung dalam tasku..”
“Hari itu?”

2015-08-29

INDIRECT LETTER (part 3)


 
Kaira duduk manis di sofa ruang tengahnya. Menyaksikan dengan tenang buket-buket bunga dan kado-kado kecil dari kawan-kawannya di meja. Namun rangkaian besar bunga gerbera yang begitu cantik menjadi sorotan utama. Shima yang duduk di seberang meja hanya menatap dengan kebingungan.
“Serius? Sama sekali tak ada kartu apa pun?”
“Ya, tak ada sama sekali. Saat aku bertanya pada orang yang meingrimkannya, orang itu tak tahu dan memintaku menghubungi langsung ke tokonya, lalu mereka bilang anak kecil yang  memesannya.”
“Anak kecil lagi? Setelah sekian lama, sekarang ada yang datang lagi?”
A boy from heaven.. Haruskah aku mempercayai itu? Di usia ini, apa kau kira aku masih bisa mempercayainya?
“I know, it’s difficult.”
“Hm.. ya sudahlah, siapa pun itu, entah orang tuaku di surga seperti kata anak itu, entah anak kecil itu sendiri, atau orang lain yang bersembunyi di balik semua itu, terimakasih,  sudah mengirim bunga di hari kelulusanku..” oceh Kaira pada entah siapa. Ia pun tersenyum getir.
@@@