Showing posts with label Journey. Show all posts
Showing posts with label Journey. Show all posts

2018-11-02

Resto Favorit di Bali


Hari kebetulan sedang kosong pekerjaan, dan aku lapar, lalu seperti biasa, mencari kegiatan. So I write this post. Why? Sebagai reminder hari tua aja, karena itu kutulis beberapa tempat makan favorit beberapa bulan (mungkin juga tahun) terakhir ini.

1.       Paphio’s Patisserie



Bukan karena apa-apa, hanya tempat ini paling dekat dengan tempat tinggal, cukup jalan kaki. Lokasinya di Jalan Tukad Yeh Aya 112A, Renon, Denpasar Selatan. Tempat ini bisa dibilang kecil tapi cozy. Terutama saat malam dengan kelap-kelip lampunya yang sangat menghibur. Pas untuk makan malam atau sekedar ngopi sepulang kerja, killing time nunggu ngantuk. Sayangnya café ini libur setiap Senin.

2018-01-26

Year End Trip - Secret Garden Sambangan

Aling-aling Waterfall

     Akhir tahun 2017 itu kututup dalam sebuah perjalanan. Mandaki gunung, lewati lembah, sungai pun mengalir sangat indah. Apakah ini perjalanan yang menyenangkan, atau tidak? Semuanya hanya tentang pilihan. Mana yang akan lebih baik untuk tersimpan.
     Dalam rangka apa tulisan terlambat ini terposting? Dalam rangka aku kebanyakan waktu luang di kantor. Tender package drawing berbagai proyek barusaja selesai dan kebanyakan dari staf harus menunggu instruksi selanjutnya dari principal
     Well, perjalanan dimulai pada tanggal 30 Desember pagi hari. Aku pergi berempat dengan 3 orang rekan perjalanan. Kami berkumpul pukul 7 pagi di kosku di Denpasar Selatan. Tujuan pertama kami adalah Secret Garden Saambangan. Lebih tepatnya adalah wisata air terjun Aling-aling. Setelah berhari-hari cemas, syukurlah cuaca hari itu cukup cerah. Perjalanan ditempuh dalam waktu 3 jam tepat.
     Sesampainya di lokasi pembelian tiket masuk, area itu penuh dengan wisatawan asing. orang yang berwajah lokal hanyalah rombongan kami dan para petugas tempat wisata. Setiap wisatawan, baik asing maupun domestik ditarik biaya Rp 10.000 per orang untuk dapat jalan-jalan dan menikmati pemandangan beberapa air terjun di kawasan tersebut. Namun bagi yang ingin berenang, atau uji nyali dengan beberapa wahana alaminya, pengunjung akan dikenakan biaya mulai dari Rp 125.000-Rp 250.000 per orang, tergantung paket kunjungan yang dipilih. Ada Short Trekking, Medium Trekking, dan Long Trekking
     Seusai membeli karcis, kami berempat kembali melanjutkan perjalanan naik dengan motor menuju area parkir. Petugas loket berkata kami dapat parkir di halaman Krisna Adventure. Somehow, kami malas bayar karcis dan memlih parkir di depan sebuah warung yang juga jalan setapak utama menuju air terjun. Pada perjalanan kali ini, berhubung kami berencana menginap di daerah Pantai Lovina, kami membawa banyak barang, finally,  kami perlu menitipkan barang kami di warung saat membeli air mineral.
     Kami pun berjalan melewati area persawahan, kemudian turuni tangga. Beberapa menit setelah itu pun kami sudah menemukan sungai. Akses menuju air terjunnya tergolong mudah. Masalah licin di beberapa spot itu sudah standar.



Di sepanjang jalan, banyak spot saluran air dan jalan setapak yang cukup eksotis penampakannya.
Tak terlalu lama untuk sampai di Aling-aling Waterfall. Secret Garden Sambangan ini terkenal memiliki 7 spot air terjun. namun kami tak terlalu paham saat itu dimana saja 7 spot tersebut dan hanya bertemu 4 air terjun. Hingga saat ini di Bali masih musim hujan, begitu pula hari itu, sehingga kami buru-buru keluar dari tempat itu ketika mendung menebal.


Ketika sampai di lokasi, seius, airnya sangat menggoda. Airnya begitu jernih dan sangat dingin. Warnanya yang kehijauan pun berkesan begitu sejuk dan tenang. Setengah hati menyesal karena hanya membeli tiket kunjungan. Namun kami pun sebenarnya tak berencana mencoba kegiatan sliding & jumping-nya sekali pun membayar paket trekking.

Kroya Waterfall


Twin Waterfall

Pucuk Waterfall

2016-04-01

New... Everything!



“Daripada ke Jogja mending pulang ke Lawang aja.”kata seorang teman di kampung. Bisa aja sih, masalahnya buat ke Jogja ini nunggunya sekitar setahun lebih sebulan. Inget banget, waktu itu harusnya upload skripsi dan jurnal malah upload cerpen buat seleksi. Padahal kalau telat upload skripsi yang udah dibikin sampai 200 halaman itu, bisa-bisa telat wisuda. Dengan penuh sadar juga, jarang sempat buka facebook, twitter, dan sebagainya tapi masih nyempet-nyempetin liat akun twitter Kampus Fiksi.
Finally, keturutan juga ke Jogja ngisi long weekend di bulan Maret ini. Awalnya sempat cemas kalau Kampus Fiksi 16 yang diadakan Diva Press ini bakal diundur, soalnya pas lihat kalender ada Paskah. Eh, ternyata nggak diundur, dan ternyata lagi, pas ngobrol sama mbak Tiwi, panitianya emang telat sadar. Alhamdulillah!

2015-09-20

Bali Tour: Beachwalk Shopping Center




     Beachwalk. Semua orang sepertinya mengenal istilah itu. Bahkan orang mancanegara mengerti. Tapi aku hanya melihatnya dari jauh selama ini. Satu detik dua detik. Memori singkat saat aku dan rombonganku melintas. Tak ada yang penting, hanya tentang keramaian, kemacetan, bangunan kontemporer cantik, hingga sepasang lover  yang berciuman di halamannya.  Tak pernah di titik itu, di posisi itu. Aku tak pernah berada di sana, satu sudut itu. Kecuali dalam mimpi beberapa tahun lalu.
      Sore itu, hanya berbekal rasa penasaran, aku dan rekan perjalananku telah sampai di Jalan Pantai Kuta Bali. Sejak kami memasuki jalan itu, melalui pantai Kuta di sisi kiri, melewati beragam fasilitas mulai Circle-K hingga Hard Rock Hotel di kanan jalan. Semua padat. Tak ada tempat parkir motor tersisa. Hingga tujuan utama kami, Beachwalk, harus terlewati bermeter-meter.
Beachwalk. Beach adalah pantai, walk artinya berjalan, jadi Beachwalk adalah pantai berjalan? Jalan di pantai? Tempat jalan-jalan di dekat pantai? Apalah itu artinya, yang pasti kami benar-benar harus berjalan kaki menuju mall berstandar internasional tersebut.
      Tak jauh dari Sheraton Bali Kuta Resort dan Harris Resort Kuta, pusat perbelanjaan seluas 93.005 m² itu selesai dibangun pada tahun 2012, dirancang oleh tim Envirotec Indonesia dan tim Tropica Greeneries (lansdscape). Hari itu Beachwalk di padati oleh orang-orang tinggi yang biasa disebut bule dan orang-orang sipit chinesse. Pengunjung domestik sangat sedikit. Nyaris tak ada. Kalau pun ada wajah pribumi, bisa dibilang itu satpam atau pekerja mall.

2015-08-15

At Monumen Bajra Sandhi



 
 Jenuh. Setelah berhari-hari menunda, akhirnya keengganan berhasil kutepis. Melepas penat, aku kembali mendapatkan udara malam yang menyegarkan.
Kuhabiskan menit-menit awalku untuk duduk di depan minimarket itu, mengamati orang berlalu lalang di koridor Jalan Raya Puputan, seraya mendapatkan pemandangan statis menara Bajra Sandhi yang tampak eksotis kebiru-unguan oleh sorot lampu. Kulihat pula seorang pemuda di meja sebelah yang sibuk menghabiskan mie instannya, sama sibuknya denganku yang tengah menghabiskan ice cream coklatku. 10 menit terlewati, baru ada dua angkutan umum warna hijau yang melintas. Meski sama hijaunya namun beda tempat beda kebiasaan. Kalau di Malang dalam satu menit bisa dua sampai tiga mikrolet, namun di daerah Denpasar, angkutan jalur GOR Ngurah rai-Renon itu sepertinya 10 menit adalah jeda paling singkat.

2015-08-01

Bali Tour: Pantai Gunung Payung

Setelah berkali-kali berencana dan berkali-kali batal, akhirnya sampai juga kami di Pantai Gunung Payung, di Desa Kutuh, Kuta Selatan, Kab. Badung. Siang itu, dua hari sebelum keberangkatanku ke Malang untuk libur lebaran. Pada awalnya kami hanya berniat untuk melihat lokasi garasi bus yang akan kami naiki pada tanggal 14 Juli nanti. Namun akhirnya kami pun melakukan perjalanan nekad. Di bawah matahari terik, di bulan ramadhan, dalam keadaan berpuasa, dari Ubung kami meluncur kembali ke arah Selatan menuju Pantai Gunung Payung.

Bali Tour: Eka Karya Botanical Garden Bedugul


Ini adalah kunjungan keduaku ke kebun raya ini. Kunjungan pertamaku yaitu ketika Studi Ekskursi pada masa kuliah semester kedua tahun 2011. Namun saat itu aku sedang dalam kondisi tak sehat, jadi aku tak punya rekaman apa pun tentang tempat ini selain yang kulihat di foto. Foto itu pun hanya sedikit, jadi saat aku kembali kemari, rasanya seperti baru pertama kali datang.Yang membuat kebun raya ini unik adalah patung-patungnya yang khas.

Pada tanggal 2 Juni itu kebun raya begitu ramai. Begitu banyak keluarga dengan anak-anak kecil membuat tempat tersebut meriah. Pagi itu kami hanya jalan-jalan saja mengikuti track yang ada di depan kami. Tak jelas apa tujuan kami yang penting terus berjalan. Sampai jalan itu pun terputus ^-^
Beberapa waktu lalu aku membuka file lama dari masa kuliah dan melihat sebuah resume mengenai tempat ini. Aku lupa ku-copy paste dari mana, namun disitu dijelaskan kebun raya ini memiliki fasilitas laboratorium, lima buah greenhouses, perpustakaan, dan taman anggrek. Koleksi anggreknya sebanyak 320 jenis yang berasal dari Bali itu sendiri, Jawa, NTT, Sulawesi dan Irian.
Selain itu juga ada koleksi tanaman obat, rumah kaktus, taman mawar, taman pakis dan paku-pakuan, ada pula rumah tradisional Bali, dan pura. 






Bali Tour: Nusa Dua Water Blow

Hari itu adalah perjalanan paling ramai. Kami sudah merencanakan liburan ini sejak seminggu lalu. Awalnya kami berencana mengunjungi Pantai Gunung Payung. Namun karena kondisi cuaca yang terlalu cerah, kami malas berterik ria di tengah hari. Kami memulai perjalanan di sore hari. Dari rumah kos seorang temanku yang bernama Irfan, aku dan Vera serta Rahman pun kemudian melesat kembali melintasi jalan tol Bali-Mandara menuju Nusa Dua Water Blow yang berada di daerah pulau Peninsula, Nusa Dua, di ujung selatan Pulau Bali.

2015-07-24

Jawa Timur Park 1

“Ayo ikut ke JP!”ajak seorang teman untuk pergi ke Jawa Timur Park siang itu.
“Iya ayo Charis ikut! Biar rame.”sahut temanku satu lagi.
“Sekarang? Siapa aja yang mau kesana?”
“Iya sekarang. Kita berdua sama Rahman juga. Sama kamu kalau kamu mau. Ayo dah kamu gak ada acara kan abis ini? Kalau gak ada ayo ikut aja. Kamu punya helm kan?”jawab temanku yang bernama Guruh.
“Yah, mau sih.. tapi aku nggak ada helm.”
“Pinjam teman sekos!”suruh Firman.
“Udah pada pulkam anak kosan. Kapan-kapan aja lah kalau kesana lagi aku ikut.”
“Yakin nggak ikut?”tanya Guruh lagi.

Itu adalah sepotong percakapan di awal tahun 2012. Aku sudah sejak lahir tinggal di Jawa Timur, khususnya Malang. Jawa Timur Park pun sudah lama terbangun, sudah banyak yang berkunjung dan membicarakannya. Tapi aku tak tahu apa-apa. Ada saat ingin kesana tapi selalu saja ada kondisi yang melarangku berkenalan dengan Jatim Park.

2015-07-22

Bali Tour: Tanah Lot



“Ke Utara atau Selatan?”
“Kalau ke Utara?”
“Kalau ke Utara ke Tanah Lot. Kalau ke Selatan ke Gunung Payung.”
“Hm..Terserah, tapi kalau ke Selatan,sepertinya kita kesorean lagi..”
“Hm..oke, berarti ke Tanah Lot.”

Melanjutkan penjelajahan, kami kembali menjajal pantai lainnya. Sebenarnya kami sama-sama sudah pernah ke Tanah Lot. Tapi tetap saja penasaran, sebab kunjungan itu sudah lama di masa lalu,di waktu yang berbeda, bersama orang yang berbeda. Hitung-hitung kali ini kami mengisi hari libur kami (14 Mei) dengan sesuatu yang menarik.

Bali Tour: Pantai Pandawa


Saat di kantor, berbincang dengan bos dan rekan kerja yang merencanakan liburan, kami bertiga pun menatap lekat-lekat foto-foto yang terpampang di google image. Itulah awal kemunculan rasa penasaranku terhadap Gunung Payung. Selama di Malang mendengar kata  Payung itu sudah pasti tempat wisata di tempat tinggi, puncaknya Batu, semacam itulah yang terbayang. Namun di Bali, awalnya kukira sama, itu nama gunung, ternyata bukan. Itu nama pantai di bagian Selatan pulau ini.

Sore itu, tanggal 9 Mei, bersama temanku, aku pun meluncur ke arah Kuta Selatan, melewati tol Bali Mandara. Tol di atas laut yang amazing. Berharap bisa berhenti menikmati pemandangan yang ada, sayang itu tol, jadi pastinya nggak boleh. Namun setidaknya aku tak menyetir, jadi aku masih bisa melihat kanan kiri di saat angin begitu kencang seperti itu.

Sampailah kami pada sebuah persimpangan jalan. Kami menikung tajam ke kiri mengikuti panah penunjuk jalan bertuliskan Gunung Payung.
“Kamu tahu jalannya kan?”tanyaku pada Rahman saat mulai cemas karena jalannya begitu sepi, dan penuh lahan kosong, rumah penduduknya sangat jarang.
“Hm..sepertinya kita kesorean, lain kali aja kalau pagi kesini.” Sahutnya. Kami pun putar balik. “Mau ke Pandawa?”lanjutnya.

Sanur Jingga



Aku tak punya potretnya secara fisik. Satu panorama hari itu. Hanya dalam memori otak. Pantai Sanur adalah tempat yang begitu terkenal. Dari sekian banyak pantai, mungkin Sanur adalah tempat yang paling sering kukunjungi. Pantai ini begitu terkenal dengan matahari terbitnya. Jingga. Dengan siluet gazebo, siluet pegunungan di kejauhan, siluet kapal, langit berona kelabu kuning jingga, semua sudah menjadi khasnya. Sudah bukan barang langka di dalam kamera orang-orang. Sederetan restaurant terbuka, jogging track, atau pun gonggongan anjing sudah jadi item wajib yang tertanam di sekitarnya. Untuk orang-orang yang mencari ketenangan mungkin akan sedikit malas kemari, apalagi kalau datang pada saat yang tak tepat.

Bosan dengan pantai Sanur, kupikir aku akan merasakan itu. Namun tidak rupanya. Aku bahkan mungkin akan sering merindukannya. Terutama mengingat suasana di sana saat malam hari. Sebagai pecinta kerlipan lampu – khususnya warna-warni, yang menghiasi restoran terbuka di sepanjang jogging track, aku sangat senang melihat perubahan suasana di pantai Sanur. Benar-benar menjadi satu tempat yang berbeda.Sempat sih membayangkan bagaimana jadinya, tapi melihat langsung itu selalu lebih indah.

Bali Tour: Pantai Candidasa



“Itu Lombok!”seru temanku.
“Masa’? Kamu tipu-tipu.”sahutku.

Hari itu hari Minggu, tanggal 3 Mei. Sekitar pukul 13.00 kami meninggalkan Taman Tirta Gangga. Sebelumnya, dalam perjalanan menuju Tirta Gangga, ada sebuah penampakan yang membuat kami mendadak terhenti. Beberapa ratus meter dari pantai dan pura yang ramai dengan orang-orang sembayang, kami melihat sebuah pantai yang terlihat menarik dengan sebuah pulau di seberangnya tampak samar-samar. Seketika ingin kesana, tapi kami teringat tujuan utama kami ke Karangasem ini. Finally, kami memutuskan mampir ke pantai ini saat perjalanan pulang.

Bali Tour: Taman Tirta Gangga

Beberapa minggu lalu awalnya aku hanya berencana melihat tempat wisata yang ada di sekitar Denpasar saja. Hanya saja rasa penasaran akhirnya membawaku dan temanku ke tempat jauh lagi. Kami pun meluncur ke sisi Timur Bali. Ada dua pilihan, Taman Tirta Gangga atau Taman Ujung. Kami pun akhirnya berencana kedua tempat itu jika memungkinkan.

Seperti biasa, dengan mengandalkan GPS, kami melalui perjalanan panjang, kalau di Jawa Timur mungkin sama ceritanya dengan menempuh perjalanan dari Malang ke Surabaya. Tak jarang juga GPS yang kami andalkan itu ternyata tipu-tipu gara-gara weak signal di beberapa daerah yang kami lalui. Jadi lagi-lagi kami harus mempertajam insting petualang. Aku masih ingat ketika kami benar-benar bingung tak tahu dimana kami berada. Beruntunglah ada toko-toko yang mencantumkan nama dan alamat daerah itu. Candidasa.

Bali Tour: Pura Ulun Danu Beratan

Berbekal satu botol kecil air mineral, setelah menimbang antara Ya dan Tidak, ternyata Ya lebih berat. Setelah mengelilingi Pura Taman Ayun kami berlanjut melakukan perjalanan jauh. Menuju Desa Candi Kuning, Kecamatan Baturiti, Tabanan. Kawasan pegunungan yang sejuk – dingin lebih tepatnya, sensasi yang kami rindukan dari kota Malang(kota kelahiranku) di saat gerah oleh udara Bali yang panas.

Karena kami sama-sama tak mengenal Bali, maka GPS adalah modal utama dalam perjalanan ini. Seperti Petualangan Dora, kami melihat peta dan mencari tanda. Bukan tanda yang berupa jembatan gunung atau semacamnya, lebih sering nama toko dan warung menjadi tanda penunjuk jalan. Meski demikian tetap saja, Apakah ini jalan yang benar? Berkali-kali pertanyaan itu muncul. Barulah setelah kami menemukan jalan besar kami mulai tenang.

Bali Tour: Pura Taman Ayun



Memasuki bulan April, sebulan sudah aku tinggal di Pulau Dewata. Setelah merenung di Pantai Pulau Serangan, menikmati matahari terbit di Pantai Sanur dan menyusuri Pantai Kuta bersama mentari senja, kini aku mencoba mengintip sisi Utara, yaitu kawasan Desa Mengwi Kabupaten Badung. Tanggal 12 April itu bersama teman yang sama kami mencoba menjelajahi Bali kembali.

Menurut sejarah, Pura Taman Ayun adalah pura utama bagi Kerajaan Mengwi yang dibangun pada abad 17 (sekitar tahun 1634) oleh raja pertama. Arsiteknya berasal dari China. Pura ini dirancang dengan disertai kolam yang mengelilingi. Taman ini memiliki luas sekitar 100 x 250 m2.

Bali Tour: Pantai Pulau Serangan

Aku di negeri dongeng?!
Bukan, ini Bali. Aku berada di salah satu bagian kecil provinsi Bali.
Perjalanan panjang di pulau Dewata ini bermula dari sebuah sebuah takdir yang sudah menjadi harapan. Harapan siapa? Diriku pastinya. Sejak kecil aku menyukai pulau ini, entah kenapa, hanya suka, itu yang kutahu.

2015-01-20

Short Journey to Malang Tempo Doeloe 2012



Untuk MTD yang kali ini kurasa sedikit lebih santai dan lengang dibandingkan saat aku datang tahun lalu. Orang-orang bilang hari pertama MTD itu biasanya sangat ramai, tapi beruntunglah tidak untuk kali ini. Aku pun bisa lebih menikmati suasana hangat festival malam itu, sebab tak perlu lagi sibuk mencari teman-teman yang hilang ditelan keramaian.
Malam itu aku baru saja selesai mengerjakan tugas Azas Desain Urban di perpustakaan Universitas Brawijaya bersama seorang temanku. Sudah lama kami di perpustakaan itu sejak matahari masih terang. Sampai akhirnya jam 7 petang tiba, tepat saat apa yang kami cari akhirnya ketemu, kami pun merasa lapar. Temanku yang bernama Guruh itu pun akhirnya mengajak makan bakso bersama di kawasan Jalan Jakarta.

Short Journey to Malang Tempo Doeloe 2011





Festival Malang Tempo Doeloe (MTD) yang disebut juga sebagai Festival Malang Kembali adalah sesuatu yang sudah berlangsung sejak tahun 2006, yang diadakan setiap pertengahan Mei sebagai salah satu bentuk perayaan ulang tahun Kota Malang. Acara ini melibatkan ratusan seniman,  menyajikan berbagai makanan/minuman tradisonal sedikitnya 50 jenis makanan khas malang, foto Malang zaman dulu, barang-barang kuno, uang kuno, kendaraan kuno dan masih banyak hal-hal kuno lainnya yang setidaknya akan menarik untuk dijadikan objek foto.
Event perdana dari MTD ini menampilkan stand yang berisi koleksi foto-foto Kota Malang pada masa lampau. MTD 2011 mengambil tema "Discovering Heritage". Event ini dilaksanakan pada tanggal 19-22 Mei 2011 di sepanjang Jalan Ijen, Kota Malang. Pada event ini ditampilkan berbagai hiburan tradisional yang berasal dari Kota Malang.  Pada tahun 2013 kegiatan ini ditiadakan dan diadakan kembali tahun 2014. Rencananya festival ini tak lagi diselenggarakan setiap tahun melainkan dua tahun sekali.
Dua paragraf di atas adalah penjelasan mengenai Festival Malang Tempo Doeloe dari berbagai sumber. Secara umum semua memandang festival itu menampilkan sejarah masa lalu, namun bagiku festival itu adalah sebuah sejarah. Salah satu hal penting yang telah masuk ke dalam buku sejarah hidupku. Menyimpan banyak cerita dan senyuman yang aku tak pernah tahu, bisa terulang atau tidak. MTD itu seperti permen kapas yang kutelan terlalu cepat. Sangat manis, namun hanya bisa kunikmati sesaat. MTD itu gulali, sesuatu yang begitu manis yang melekat erat dalam memoriku.

2015-01-19

Short Journey to Yogyakarta : UGM dan Tamansari



Setelah kemarin bersenang-senang dengan Monjali, hari ini aku dan Rica lebih fokus kepada perjalanan kami berikutnya, tujuan utama kami, TM Sayembara Desain UGM. Hmm..bukan tujuan utama juga, tujuan terpentingnya adalah jalan-jalan.. ~(^-^~)   \(^o^)/   (~^-^)~   Pagi itu kami berangkat ke UGM diantar oleh pamanku dengan sepeda motornya. Ya hanya dengan pamanku dan sepeda motornya. Namun bukan berarti cenglu melainkan omku bolak-balik. Ya, untungnya UGM nggak jauh..
Sesampainya di UGM, kami merasa seperti alien yang jatuh ke bumi. Kebingungan mencari tempat pertemuan. Mencari lokasi gedung Teknik Arsitektur dan Perencanaan. Mengamati setiap keramaian yang memungkinkan itu adalah peserta sayembara dari kampus lain. Sesaat kami menghibur diri mengamati rumah bambu bertingkat dua di tepi jalan, instalasi yang khas menandakan itu kerjaan anak arsi. Sampai setelah itu kami akhirnya menemukan tempat yang kami cari. Tapi karena masih ada waktu kami berkeliling sejenak di luar mengelilingi area yang mirip hutan kecil itu sambil membicarakan komik golongan darah, juga nyamuk yang sangat suka dengan darah O.